Sepakbola, Agama, dan Indonesia

Sepakbola telah menjadi sebuah Agama dari dulu. Tidak hanya di Amerika Latin dan Eropa yang telah menjadi salah satu kepercayaan dalam kehidupan masyarakat. Wilayah seperti Timur Tengah, Semenanjung Korea, dan khususnya di Indonesia telah menjadikan sepakbola sebagai Lifestyle dan sebagai penyambung nyawa mereka.

Captain Tsubasa

captain tsubasa is a god in japan..?? bisa saja..^^

 

Jika kita Menilik dan menggunakan perspektif Ucapan tentang Civil Religion dari Robert N. Bellah, secara otomatis Sepakbola bisa dikatakan sebagai sebuah agama. Namun, dalam hal ini bukan Agama dalam bentuk konvensional atau sebenarnya. Tapi suatu bentuk kepercayaan dan gugusan nilai dan praktik yang memiliki semacam “teologi” dan ritual tertentu yang di dalam realisasinya menunjukkan kemiripan dengan agama-agama tertentu. Yang juga bisa diibaratkan bukan sebagai suatu bentuk ritual agama, melainkan suatu sistem yang telah mengalir dan menjadi kebiasaan di suatu instansi-instansi tertentu. Seperti pengadaan upacara bendera pada 17 agustus dan pada hari-hari tertentu di setiap tingkatan pendidikan. Hal tersebut juga bisa disebut sebagai civil religion.

Dalam konteks tersebut, Sepak Bola sudah bisa disebut sebagai Civil Religion. “Teologi” dalam sepakbola telah membuat beberapa tokoh sepak bola dunia seperti Pele, George Weah, Silvio Berlusconi, serta Jose Luis Chilavert tak segan-segan berkecimpung dalam dunia politik.

Dukungan para suporter tak jarang mengandung sentimen emosional dan fanatisme membabi buta yang rentan melahirkan holiganisme. Kadang kita sulit membedakan fanatisme terhadap satu klub bola dengan fanatisme kaum militan terhadap kebenaran agamanya sehingga mengekslusikan penganut agama lain.

Berikut adalah beberapa contoh mengapa saya mencoba menulis fenomena tersebut.

1.  Arab Saudi

Ketika tim Arab Saudi dibantai tanpa ampun oleh Jerman 0-8 di Grup E Piala Dunia 2002, sontak para sheikh di sana kebakaran jenggot. “Kekalahan Itu sebuah Skandal “tulis salah satu koran terkenal Arab, Asharqul Awsath. “Arab Saudi bermain tanpa penyerang, tanpa gelandang, tanpa pertahanan, bahkan tanpa penjaga gawang” demikian koran-koran di negara petrodolar sehari pasca “tragedi nasional”.

2. Jepang dan Korea Republic

Saat Piala Dunia di tahun yang sama. Jepang dan Korea Republic sebagai tuan rumah seakan secara spontan mengubah agama mereka menjadi sepak bola. Hampir seluruh masyarakat di 2 negara itu menjadikan sepak bola sebagai panutan utama mereka. Bahkan dikutip dari perkataan seseorang di jepang, bahwa tempat peribadatan mereka menjadi kosong melompong.^^

3. Indonesia

Yang paling hangat adalah di Indonesia saat terjadinya Piala Asia 2007 yang melibatkan Indonesia sebagai salah satu tuan rumah. jakarta, khususnya SUGBK berhasil disulap oleh sepakbola menjadi ‘tempat peribadatan sementara’. Terutama saat pertandingan Bahrain melawan Indonesia dan Korea Republic melawan Indonesia. Petandingan yang dilaksanakan pukul 17.00 itu secara cepat melewati pukul 18.00. Penduduk yang mayoritas muslim ini seakan lupa untuk melaksanakan ibadahnya. Mereka lebih tertarik memperhatikan Sepak Bola yang saat itu benar-benar telah menjadi “Agama Sementara”.

Kesimpulan : Coba waktu ngelawan Korea, penontonnya pada sholat maghrib dulu…pasti Indonesia bisa seri atau menang…^^

10 Tanggapan ke “Sepakbola, Agama, dan Indonesia”


  1. 1 kakilangit Juli 24, 2007 pukul 2:30 am

    ya..kalo gitu ya silahkan pilih agama yang benar..

  2. 2 Neo Forty-Nine Juli 24, 2007 pukul 4:16 pm

    :D

    Mau sholat Magrib, mau sholat gaib. Indonesia ga bakalan menang. kenafa? karena memang beda kualitas alias ga ada ikhtiarnya… coba kalau dari dulu Indonesia ikhtiar dengan cara memejukan pembinaan, ga bakalan kalah deh…

    jadi…. usaha dulu… baru doa….

  3. 3 Neo Forty-Nine Juli 24, 2007 pukul 4:17 pm

    heh! komenku menghilang?????????

  4. 6 mataharipagi Juli 24, 2007 pukul 4:48 pm

    (PERTAMAX apa..?? udah yang keberapa tuh mas mp..??)

  5. 7 mataharipagi Juli 24, 2007 pukul 4:58 pm

    @kakilangit

    menurut…??

    @Neo Forty-Nine

    sorry…masih pemula…^^ (dasar bodoh…)

    kita, anda, suporter di SUGBK sudah tahu usaha yang anda maksud, indonesia kosong melompong…jadi tinggal berdoakah, jalan satu2nya…??

    apa sepakbola hanya dijadikan “panutan” sementara..??

  6. 9 sikabayan Juli 31, 2007 pukul 7:46 am

    euh… harus diterima kekalahan tersebut teh… sebab kebiasaan atau keahlian yang sudah sangat terlatih nyah… yaituh suap menyuapi tidak bisa berjalan dengan baik… pan percumah berdo’a supaya team lawan mau terima mah…

  7. 10 febriminato Oktober 20, 2009 pukul 6:28 am

    very good i think


Tinggalkan Balasan




Our Destination

Another Quote Move

“I will believe it when I touch the trophy, not before. They are young. It's all right, they can dream. I am a concrete man and I want to continue to work hard. When I wake up I start to work. Dreams finish with the night.”
~Claudio Ranieri - Juventus Manager~

Legend Untitled

Parameter Syndrome

  • 755 Gazact